Selasa, 07 Agustus 2012


You're My Choice

Aku membuka lembaran buku tahunan waktu SMA sambil aku termenung sejenak melihat tampangku yang cupu. Aku buka di kelas IPA, sosoknya membuat bibirku meringis. Cinta pertama yang tak tercapai, harusnya dulu aku masuk di kelas IPA, tetapi aku benci Biologi. Kamarku yang sepi membuatku melamunkan sosok laki-laki itu.
       Kini aku sudah semester 4, aku berusaha keras melupakan sosoknya, incaranku ada yang baru di kampus. Aku anak Sastra Indonesia, dan pria yang aku incar kawanku sendiri, Petra namanya. Dari awal semester 1 aku sudah kompak dengannya, aku tidak munafik mulai memiliki rasa suka. Apalagi kedekatan kami sangat akrab apa-apa berdua.
       Tetapi, aku tidak berani mengungkapkan perasaanku padanya. Kalau menurut di novel-novel, karena cinta terkadang bisa merusak persahabatan. Daripada aku jauh darinya lebih baik ku pendam saja.
       Jam menunjukkan pukul delapan pagi, aku duduk di meja makan untuk sarapan. Ibu ku dengan senyuman telah menyiapkan nasi goreng untuk Kak Dion, Ayah dan aku. Kak Dion hendak berangkat kerja, dia membantu Ayahku membiayai kuliahku. Kak Dion bekerja di perusahaan swasta, dia tidak kuliah karena Ayah tidak punya cukup biaya. Mereka semua orang yang sangat penting bagiku.
       Suara motor yang ku kenal datang menungguku di teras, si Petra. “Jangan pacaran mulu kamu. Kulia yang benar,” ledek Kak Dion. “Siapa yang pacaran? Sahabat aja kok,” jawabku. “Disuru masuk teman kamu,” kata Ayah. “Iya, Ayah,” kataku.
       Aku berlari ke teras dan membuka gerbang. “Ayo masuk, kita sarapan bareng,” ajakku. “Gak usah. Tadi gue udah sarapan,” sahut Petra. Petra memang sangat pemalu susah untuk disuruh masuk ke dalam rumah. “Masuk saja, Nak. Ayah berangkat dulu Cer,” suara Ayah mengaggetkanku dan Petra. “Iya masuk aja,” kata Kak Dion. Petra tersenyum dan mengangguk, tetapi tetap saja ia tidak mau masuk sampai Kakakku dan Ayah pergi. Aku mengambil tas dan berpamitan pada Ibu. “Teman kamu tidak disuruh masuk dulu,” tanya Ibu. “Susah, Bu. Dia pemalu, aku berangkat, Bu,” kataku.
       Aku berboncengan dengan Petra. “Gue, dapat sms kalau jam pertama dosennya gak datang,” katanya. “Loh, terus kita mau ke mana? Kenapa lo baru bilang pas udah jalan,” tanyaku. “Temanin gue ke danau sebentar ya. Nanti kita mampir ke minimarket, gue traktir lo ice cream,” katanya. Aku hanya tersenyum dalam batinku asal bersama kamu aku senang banget.
       Aku memilih ice cream strawberry with vanilla. Tiba-tiba dari belakang ada yang menarikku. Kagetnya aku ada anak kecil ternyata. Sepertinya dia ingin makanan yang ku pilih dimana Ibunya batinku. “Pet, kayaknya ini anak ingin ice cream gue,” bisikku. “Lo kenal? Kalau kenal gue beliin,” katanya. “Gak..”  Tidak tega aku melihat anak kecil itu, aku hendak meyerahkan Ice cream yang ku pegang. “Alif, jangan mau di beri makanan sama orang asing,” kata sesosok Ibu-ibu gendut. Aku sedikit tersinggung, batinku anaknya yang mengikuti aku, aku yang dimarahin. Ibu-ibu itu berlalu membawa anaknya.
       Aku bersandar pada pohon di dekat danau dan duduk menyelonjorkan kakiku sambil menyendok lembutnya Ice cream. Aku dan Petra tertawa-tawa menceritakan kejadian Ibu-ibu gendut tersebut. Tiba-tiba hening sejenak. “Lo tau gak hari ini gue ultah,” katanya. Aku kaget sambil menoleh ke arahnya. Mata kami pun saling bertatapan. “Aduh gue gak tahu. Happy birthday ya,”kataku memberi tanganku. “Kadonya mana?”
       Aku harus wajib memberikan kado untuk Petra. Selesai kuliah aku harus menghilang tanpa ketahuan si Petra. Aku bingung harus memberikan kado apa, aku berpikir dengan keras. Kalau seperti ini aku jadi ingat membelikan kado valentine untuk cinta pertamaku di toko yang sama. Dahulu aku belikan dia gelang dan coklat, tanpa ku beri nama dan diam-diam aku menyuruh teman laki-lakiku untuk memberikannya padanya. Nostalgia lagi ini dari kemarin batinku.
       Kebetulan memang yang bisa ku beli hanyalah gelang. Kebetulan di Toko tersebut masih ada, padahal sudah lama sekali. Bukannya pelit Petra, tetapi memang lagi menipis sakuku. Saat di kasir aku mengantri padahal aku hana membeli satu gelang saja. Ku lihat di depanku sosok pria seumuranku berkulit putih, dia memakai gelang produk toko ini. Persis warnanya kayak yang ku berikan pada incaan SMA ku dulu.
       Aku berjalan menuju luar Toko, aku melihat pria tadi bediri seperti menunggu seseorang. Aku bersampingan dengannya ku tatap sosoknya, sepertinya tidak asing. Dia si anak IPA, Aprilio namanya. Aku ingin memberikan senyuman padanya, tapi apakah dia mengenaliku. Sekilas perasaan yang mulai padam muncul lagi karena gelang yang ku beri dipakainya hingga saat ini. Bahkan, dia tidak tahu darimana gelang itu.
       Padahal dulu aku dapat info, kalau dia bakal meneruskan kuliah di Singapura. Ku pandangi dia terus. Sampai sebuah bunyi ponsel mengaggetkanku, reflek si Aprilio menoleh ke arahku, aku lalu buru-buru berlari dan mengangkat ponselku. “Kamu di mana? Dicariin sama Petra,” kata Ibuku dibalik ponsel. “Lagi di jalan, Bu.Tolong suruh Petra pulang ya, Bu. Kayaknya aku masih lama,” kataku lalu mematikan teloponnya. Ku perhatikan Aprilio dari jauh, dia masih menunggu seseorang.
       Sampai senja berlalu, akhirnya dia mengangkat kakinya untuk beranjak pulang. “Apa yang dia tunggu?” Aku berjalan mengikuti kemana dia pergi. Ternyata rumahnya tidak jauh dari Toko itu. Perlahan ia membuka gerbang pintunya. Ternyata rumahnya di sini. Aprilio masih seperti dulu, hanya saja kulitnya makin bersih. Beda denganku kulitku yang kecoklatan ini, makannya aku minder sekali padanya. Perutku mulai keroncongan dan aku beranjak pergi.
       Ponselku berdering lagi. Aku mengangkatnya secara perlahan. “Lo di mana? Gue mau traktir lo, lo nya gak ada di rumah,” kata Petra. “Benaran mau traktir? Jemput gue di daerah Toko accessories,” kataku. “Okay,” katanya. Aku bediri di depan toko itu lagi, aku melihat Aprilio jalan ke arah sini. Sering banget dia jalan ke arah sini.
       Suara motor yang ku kenal, aku langsung menaikinya. Tatapan aku dan Aprilio menyatu dari arah kejauhan, aku tersenyum padanya berharap dia mengerti. “Lo ngapain ke Toko itu? Punya duit banyak ya,” tanya Petra. “Ini gue kan beliin gelang buat lo. Uang saku gue, gak bisa beli yang mahal-mahal, maaf ya,” jawabku. “Gak apa-apa santai aja,” katanya.
       Minggu pagi menyambutku dengan bangunku yang malas-malasan. Aku menatap fotoku dan Petra di meja belajarku. Terlihat juga ada buku kenangan SMA. Aku membekap gulingku erat dan melamun. Petra dan Aprilio mana yang pantas denganku. Aku tersenyum, sepertinya tidak ada yang mau. Lamunan musthilku in terlalu berlebihan. Rasanya semakin malas untuk beranjak dari kasur empukku.
       “Anak perawan, jam segini baru bangun,” kata Kak Dion mengaggetiku. “Udah bangun Kak, mau ke mana? Kok udah rapi,” tanyaku. “Ke tempat Bosnya Ayah, kemarin kamu langsung tidur. Jadi, Ayah lupa cerita kali,” jawab Kak Dion. “Oh…aku diajak? Ada acara apa,” tanyaku. “Selametan. Kamu di ajak, mandi sana. Kata Ayah harus pakai baju yang rapi,” kata Kak Dion. Aku lantas menuju kamar mandi.
       Ayah bersama Ibu berboncengan, sedangkan aku dengan Kak Dion. Aku kaget setengah mati ternyata tujuannya adalah ke rumah Aprilio. Rumah itu tampak ramai sekali, memang orang kaya batinku. Aku mindik-mindik agar tidak terlihat Aprilio, tetapi memang tidak tampak wujudnya. Kami menghampiri Bos Ayah. “Wah anak kamu sudah besar-besar,” katanya. Ayah dan Bosnya asik mengobrol, sementara aku celingak-celinguk mencari Aprilio. “Nah ini anakku, Aprilio,” kata Bos Ayahku menunjuk isyarat ke belakangku. Ternyata ini Aprilio di belakangku, aku hanya bisa tersenyum.
       “Cerry, ini Aprilio dulu satu sekolahan sama kamu,” kata Ayah. Aku hanya tersenyum menatapnya malu. Mereka meninggalkan kami untuk mengobrol. Sifat Aprilio memang sedikit dingin. Aku bingung harus bahas apa. “Kemarin gue, ketemu lo di Toko itu,” katanya tegap berdiri. “Iya beli kado buat teman gue. Bukannya lo kuliah di Singapura,” tanyaku sambil memandangnya penuh kagum. “Iya, tapi dari mana lo tau, gue jarang ngelihat lo di SMA,” katanya. Mati kutu mendengar ucapannya, ketahuan kalau aku tidak populer. “Iya, gue kan memang gak populer,” kataku ketus. “Gue pulang ke sini karena satu Minggu lagi ka nada reuni SMA,” katanya. “Oh…gue malah gak tau,” kataku. “Um…lo kuliah di mana,” tanyanya. “Di sana tuh, dekat dari sini,” jawabku. Kami berdua terdiam beberapa jam. Ini pertama kalinya aku ngobrol sama cinta pertamaku, dan sudah kebukti dia tidak mengenaliku. Dongkolnya hati ini, kalau tahu begini aku tidak usah ikut.
       Kakakku datang selamat rupanya aku, dia yang mencairkan suasana dingin ini. Tetapi aku sebal karena aku dicuekin, aku lantas mencari makanan untuk mengatasi laparku. Tadi pagi aku belum sarapan. Aku melahap makanan yang ada di meja. Perasaan suka ini muncul lagi batinku, bagaimana dengan Petra. Suka kepada dua laki-laki, tetapi belum tentu salah satu dari mereka menyukaiku.
       Suasana kampus ramai sekali. Aku hanya sibuk berdua dengan Petra. Petra nampak senang mengenakan gelang yang ku beri. “Pet, gue mau curhat tapi bingung,” kataku. “Curhat tinggal curhat, Cer,” katanya. “Cinta pertama gue datang. Gue bingung banget sementara gue uda lupain dia loh,” ujarku seraya berpangku tangan. “Pasti dia nolak lo,” serunya. “Mana mungkin gue nembak dia. Pertama kali bicara sama dia aja kemarin,” kataku. Petra terdiam sambil mendengarkan dosen. Aku dicuekin batinku, Petra memang tidak bisa diganggu kalau lagi serius, padahal yang lain ribut.
       Saat di rumah aku duduk santai di ruang telivisi, menonton sinetron remaja. Ceritanya benci jadi cinta, seru juga batinku. Aku focus sekali memperhatikan sinetron itu, sampai pandanganku terkaget melihat  Kak Dion bersama Aprilio ada di rumah ini. “Kak, kok dia ada di sini,” tanyaku. “Kata Ayah, Aprilio mau menginap di sini. Ayah dan Bosnya kan ada meeting di luar kota,” jawab Kak Dion. “Oh…kan dia punya pembantu dan supir,” kataku. Tiba-tiba pandangan Aprilio pindah ke arahku menatap sinis. “Kalau lo gak suka gua pulang aja. Gue telepon supir,” kata Aprilio ketus. “Ye…gue kan Cuma nanya. Kali aja lo ga betah tinggal di rumah kayak gini,” jawabku. “Cery udah jangan judes gitu,” kata Kak Dion. Ibu memecah suasana memanggil kamiuntuk makan malam.
       Di meja tersedia lauk tempe goreng buatan Ibuku yang ajib, sayur asem sama sambelnya. Aku memperhatikan Aprilio yang kebingungan. “Gak biasa makan kayak gini ya? Biasanya makan pizza,” tanyaku. “Sebenarnya gue lebih suka makanan kayak gini, dibanding Pizza,”jawabnya tersenyum tipis. Kalah lagi dari dia, seperti peluru yang dipantulkan ke cermin itulah aku sekarang, kikuk banget. Ibu nampak berbincang-bincang dengan Aprilio, begitu juga Kak Dion. Di rumah ini hanya aku yang tak suka dengannya, aku juga bingung kenapa perasaan sukaku jadi benci.
       Aku berjalan menuju kamarku sambil membuka ikatan rambutku. Rambutku terurai panjang. Aku merasa ada seseorang yang membelai rambutku. “Kak Dion rese deh,”kataku berbalik badan, aku kaget melihat orang di belakangku. “Rambut lo, pasti belum terjamah obat-obatan salon,” katanya. “Gak sopan lo,” kataku membuka pintu kamar. Kemudian Aprilio menarik tanganku. “Temanin gue, gak bisa tidur. Ada acara special nih di telivisi, Kak Dion udah tidur soalnya,” katanya menariku paksa. Aprilio menarikku ke ruang telivisi.
       Aprilio menyetel acara lawak, padahal saat itu aku ngantuk. Kami hanya terdiam, aku menatapnya dia tertawa sendiri. “Lo kenapa bela-belain dari Singapura Cuma buat reunian. Gue aja males,” tanyaku. Dia menatapku dan berhenti tertawa. “Itu karena gue penasaran mau cari tau siapa yang kasih gelang ini. Gue mau cari si Riki anak IPS, moga aja dia datang,” jawabnya. Perasaanku kala itu jantung berhenti berdetak, aku termenung menatapnya. Kalau sampai dia tahu yang ngasih gelang itu aku, kacau. “Um…terus kalau lo tau siapa orangnya gimana,” aku dengan terbata-bata bertanya. “Apa ya, kalau orangnya pas dihati gue bakal gue pacarin,” katanya. Aku terdiam dengan muka pucat, badanku tiba-tiba dingin, perasaan apa ini. “Gue uda ngantuk ni. Gue tidur ya,” kataku berdiri. Tanganya lagi-lagi dengan cepat narik tanganku. “Tidur di sofa aja, nanti kalau lo ketiduran. Gue bangunin,” katanya. “Banyak maunya lo. Ogah ah…gue mau ke kamar,” kataku. “Pokoknya lo harus duduk di sini,” katanya menarik tanganku sampai aku terduduk di sofa. “Sumpah. Maksa banget dah,” kataku. Mau tidak mau aku harus menuruti kata anak Bos Ayah ini.
       Sampai paginya aku merasakan kasurku yang empuk. Aku mengolet-ngoletkan badanku. Sampai aku terduduk di pinggiran kasur. Semalam bukannya aku ketiduran di sofa. Aku berusaha mengingat-ingat lagi. Mungkin, Kak Dion yang mengangkatku ke sofa, lagipula aku tidak punya kebiasaan berjalan sambil tidur. Aku berjalan menuju kamar mandi. Aku melihat pesona Aprilio selesai mandi, ganteng dan badanya sixpage, kebetulan tak pakai baju dia. “Ngapain lo ngelihatin gue kayak gitu,” bentaknya. Aku menatapnya sinis lalu buru-buru ke kamar mandi.
       Kak Dion nampak sudah bersiap berangkat bersama Aprilio. “Tuh kamu udah disamperin sama Petra,” kata Kak Dion. Aku berpikir, hari ini ada kuis aku harus berangkat pagi. Aku berpamitan pada Ibu. Aku melihat Petra dan Aprilio saling bertatapan. Petra tampak tersenyum pada Kak Dion. “Paper lo, uda dibawa,” tanyanya mengingatkanku. “Oh iya bentar,” aku berlari ke kamar.
       Saat aku keluar kulihat Petra dan Aprilio bersalaman, terlihat keduanya saling memandangi gelang mereka masing-masing. Aduh gawat nih, batinku seraya menggigit bibir, aku langsung berlari ke arah Petra, selesai berpamitan dengan Kak Dion.
       “Eh tadi si Aprilio gak nanya macem-macem kan,” tanyaku. “Kasih tahu gak ya. Iyah dia tanya gelang ini dari mana, karena sama kayak punya dia,” jawabnya ragu. “Terus-terus lo jawab apa,” tanyaku makin penasaran. “Sebelum gue jawab. Dia first love lo,” katanya. “Iya, Pet. Dia hadir lagi dan lebih dekat secara tiba-tiba gini. Lebih parahnya dia mau tau siapa, yang kasih gelang itu. Makanya dia ke sini.” Petra terdiam sambil mepercepat laju motornya. “Pet kok jadi ngebut. Lo gak jawab pertanyaan gue,” teriak aku. “Gue jawab yang ngasih gelang ini lo, kita sama-sama keget. Apa perasaan lo ke gue kayak si first love lo,” tanyanya. Aku hanya diam bingung harus menjawab apa.
       Serius aku jadi gak konsen untuk mengerjakan kuis pagi ini. Tuhan bantu aku mengerjakan soal ini, aku berusaha keras untuk melupakan masalah di kepalaku. Aku berusaha fokus mati-matian. Semua soal sudah aku selesikan, smuanya ku pasrahkan saja sama yang ngecat cabai. Aku lihat Petra masih sibuk mengerjakannya, aku langsung berdri dan buru-buru keluar kelas.
       Aku berjalan keluar kelas suasana tiba-tiba hujan. Aku mencari tempat persenbunyian agar tidak terlihat Petra, aku berlari ke sekeliling kampus. Akhirnya, aku dapat tempat duduk jauh dari kelas. Aku merasa suasana mulai dingin kebetulan tidak membawa jaket. Habis mata kuliah pagi ini harusnya aku bisa pulang, karena tidak ada mata kuliah lagi. Aku menghela napas sambil melipat tanganku karena hujan mulai deras.
       Dari belakangku secara tiba-tiba ada yang mengenakanku jaket. “Lo gue cariin, taunya di sini,” katanya. Aku menoleh ternyata Petra, aku kaget dan bingung harus berkata apa. Petra duduk di sampingku, kami memandangi hujan yang tak kunjung reda. Aku tidak mengeluarkan sepatah katapun. Sering kali pandangan kami terarah hingga saling bertatapan, lalu aku tersenyum dan menuduk. Suasana dingin ini berubah jadi cair karena ada Petra.
       Petra menggenggam tanganku. Aku menatapnya, jantungku berdetak kencang. “Bolehkan gue pegang tangan lo. Dingin ni,” katanya. Aku jadi tidak enak hati jaketnya ku pakai, aku mengangguk. “Banyak diem ya lo,” tanya Petra. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
       Hujan mulai reda, saat itulah aku dan Petra pulang. Dia terus menggenggam tanganku saat menuju parkiran. Petra merengkuh bahuu, sehingga kami saling bertatapan saat di parkiran. “Jangan diam aja, apa yang lo rasain sama gue?” Petra menatapku. Aku menggit bibirku dan menatapnya. “Gu…e, takut persahabatan kita hancur karena perasaan ini,” itulah kata-kata yang keluar pertama kalinya. Petra melepaskan rengkuhannya di bahuku, lalu mengenakan helmt dan menaiki motornya. Aku pun duduk di belakangnya.
        Semenjak kejadian tersebut, aku lebih banyak diam pada Petra. Malam ini aku melamunkanya, aku tak mengerti apakah dia juga punya rasa yang sama padaku. Dia genggam tanganku kala itu. Bingung sekali batin dan pikiranku.
       Kak Dion membangunkanku dari lamunan. “Kamu gak ikut reuni SMA,” tanyanya. “Males Kak,” jawabku. “Aprilio di depan ngajakin kamu buat bareng ke reunian.” Aku hampir lupa kalau aku masih punya masalah gelang dan hari ini adalah penentuan, aku berharap Riki tidak datang. “Males Kak, biar Aprilio aj sendiri,” kataku. “Cer, Aprilio udah nunggu kamu ganti bajulah. Jangan sombong jadi orang, ketemu teman lama kok gak senang,” ujar Ibuku. Aku beranjak ke kamar untuk berganti baju dengan rasa malas.
       Aku menaiki mobil Aprilio. “Kenapa lo ga berangkat sendiri aja sih,” tanyaku. “Gak ada temannya gak enak. Oh iya, teman lo itu punya gelang yang sama kayak gue. Katanya dari lo,” tanya Aprilio. Jantungku seolah berhenti berdetak, wajahku pucat pasi. “I…ya,” jawabku singkat. “Tapi kalau gelang ini kayaknya gak mungkin dari lo,” katanya sambil memegang gelangnya. Aku hanya diam dan berdoa dalam hati semoga Riki tidak hadir.
       Reunian SMA aku, diadakan di satu restaurant berkelas mahal. Hebat juga tanpa dipungut biaya apapun reunian ini, siapa yang jadi donaturnya batinku. Aku memperhatikan suasana ramai itu, tak nampak seorang Riki. Aku berjalan bersama Aprilio. Dipikir teman-teman lain kami pasangan kekasih kali. Aku bertemu dengan temanku Siska. Dia membisikiku,”Hebat akhirnya kamu bisa jadian sama Aprilio.” Aku menarik tangannya menjauhi Aprilio. “Sis, Riki datang gak? Aprilio mau cari tahu siapa yang kasih gelang itu,” tanyaku. “Loh gue pikir lo udah jadian. Si Riki tadi datang, tapi gak tahu kemanain. Itu sama Aprilio,” kata Siska.
Situasi yang darurat aku langsung berlari ke arah Riki, semoga dia belum cerita. Aku akan mengalihkan pembicaraanya. “Nah ini yang kasih gelangnya. Tambah cantik lo Ceri kan,” kata Riki. Aku pun membalik arah menuju pintu keluar. Kacau batinku, aku tanpa menoleh ke Aprilio, aku sangat malu luar biasa.
Aku sms Petra untuk menjemputku di restaurant tersebut. Aku ke pintu depan untuk menunggu Petra. Aku menghela napas semoga Aprilio tidak keluar batinku. Aku mendengar suara langkah kaki dari belakang.  Aku memjamkan mataku dan berkata pelan, “Bukan Aprilio…Bukan Aprilio…”  Suara langkah kakipun terhenti dan aku mulai meberanikan untuk membuka mata.
Aku lihat Aprilio berdiri di depanku. Aku tersenyum malu padanya. “Ternyata lo, mau pulang? Lari dari masalah,” kata Aprilio. “Bu…bukan gitu,” aku terbata-bata berkata. “Gue jauh-jauh dari Singapura. Gue sewa mahal resto ini, gue undangin semua teman-teman. Lo mau pergi gitu aja,” bentaknya. “Lo mau apa? Itu masa lalu,”kataku. “Gue mau jelasin maksud lo kasih ini semua, apa perasaan lo sama gue,” tanyanya. “Gue dulu pernah suka sama lo, tapi maaf kalau lo gak suka. Kita emang gak pantas, lo anak Bos Ayah,” kataku. Dia meluk aku tiba-tiba. Jantungku berdetak kencang tapi ku lihat Petra di sebrangku lalu mengegas motornya kencang. “Apa dia marah,” batinku.
Aprilio memelukku, “Gue suka sama lo dari pertama kali kita ketemu.”  Aku kaget mendengar pernyataanya. Tiba-tiba aku memikirkan Petra, “Lo cuma masa lalu gue, gue gak ada rasa lagi sama lo, maaf ya Aprilio,” kataku melepas pelukannya. “Iya gue tau, Petra kan yang ada di hati lo, tapi gue lega kalau lo yang ngasih gelang ini. Thanks ya,” kata Aprilio tersenyum lega.
Besoknya saat di kampus aku mencari Petra. Dia tidak menjemputku hari ini. Aku melihat Petra duduk dengan seorang wanita. Mereka tertawa lepas, hatiku sakit seketika. Itu adalah Mulan, cewek semok kalah kalau dibandingkan denganku. Aku tanpa menoleh ke arahnya langsung duduk.
Petra itu biasanya pendiam teman dekatnya hanya aku. Aku duduk sambil termenung. Petra mengulurkan tangannya padaku. “Selamat ya, yang udah jadian,” katanya. Aku melihat dia tidak mengenakan gelang yang ku beri. “Apaan maksud lo. Gak, gue tolak si Aprilio,” kataku ketus. Petra terdiam sambil menatapku. “Kenapa lo tolak,” tanyanya. “Karen ague suka cowok lain,” jawabku. Petra terdiam dan duduk lagi di samping Mulan.
Aku menunggu angkot di depan gerbang kampus. Petra menghampiriku dan membuka helmtnya. “Gue suka sama lo. Lo mau jadi pacar gue,” tanyanya. “Kan gue udah bilang gue suka cowok lain,” jawabku membuatnya bingung. Petra memakai helmtnya lagi. “Eh tunggu gue bareng,” kataku. “Lo bareng aja sana sama cowok yang lu incer,” bentaknya. “Cowok yang gueincer lo, jadi bareng ya,” kataku tersenyum.
Dunia mulai berbalik wanita berhak memilih sekarang. Cinta itu rumit ketika kita harus memilih mana yang paling baik. Tetapi jika hati telah bicara kamulah pilhanku.
       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar