
Cup of Tea
Langit mulai mendung tampak menghiasi sore hari di Kota Jogja. Perlahan tetesan air membasahi tanah serta jendela-jendela terkhusus di cafe yang dibanjiri pembeli sore itu. Letaknya yang strategis berdekatan dengan salah satu Universitas di kota itu menjadi faktor utama larisnya cafe itu. Menu-menu yang dipesan pun cocok untuk menghangatkan diri kala hujan yang mulai deras.
”C.O.T” nama cafe yang di banjiri pembeli sore itu. Semua pelayan sibuk hilir mudik mencatati pesanan pembeli. Menu-menu yang hangat pun yang menjadi raja disetiap catatan menu para pelayan. Semua orang menikmati sajian hangat cafe itu sambil menunggu hujan reda. Canda-tawa, serta suara-suara pembeli yang memanggil para pelayan menghiasi café itu.
Tampak dua mahasiswa duduk mengambil posisi di dekat jendela. Sambil tersenyum kepada seorang pelayan yang cukup cantik. “Pesan es teh ya mbak…..dua.” kata salah seorang mahasiswa. “Hahah..buat kalian belakangan aja deh ya? Heheh…pesanannya beda sendiri.”
Hujan pun mulai reda perlahan pembeli keluar dari café itu. Pukul sembilan tepat cafe mulai ditutup. Dua mahasiswa tadi menunggu pelayan café yang cantik itu. “Capek banget ya Ren? Gimana kalau kita traktir kamu malam ini?” kata Vino. “Kita? Waduh sorry banget aku lagi bokek, barusan aja mobilku masuk bengkel,” kata Uky.
Rena tersenyum sambil merangkul mereka. ”Kalian itu belum punya penghasilan gak sepatutnya aku minta traktir kalian. Mumpung habis gajian, biar aku deh yang taktir kalian.”
”Yo..ndak bisa gitu Ren, kamu mesti bayar kost kan? Belum buat makan dan mencukupi hidup kamu,” kata Vino. ”Idih...itu sih gampang Vin.., aku traktir kalian di wedangan aja ya?”
Rena, Vino dan Uky sudah bersahabat sejak SMA di Jogja. Perkenalan merekapun sangat berkesan dan selalu terpikir di otak mereka, sepertinya pun tak akan dilupakan. Saat itu Rena adalah junior dan kebetulan dari SMP di Jakarta, dia begitu populer. Pada saat MOS Rena telat, Uky dan Vino yang kebetulan anggota OSIS berniat untuk membuat cupu anak gaul Jakarta itu di depan junior yang lain. Vino dan Uky pun menhukumnya untuk berjoget dangdut di depan junior yang lain,lalu Rena menolak dan membantah Uky dan Vino. Vino dan Uky membentak Rena dengan keras. Rena menunduk dan pingasan, buru-buru Uky dan Vino menggotong Rena ke UKS.
Saat itu niat mempermalukan diri Rena malah membalik ke Uky dan Vino di depan junior. Bukan hanya junior, di depan gurupun Vino dan Uky masih di marahi. Seminggu setelah MOS Rena mencari Uky dan Vino untuk minta maaf, sambil membawa dua batang coklat untuk diberikannya. Karena pingsanya saat MOS itu hanya pura-pura. Vino dan Uky bukannya marah, malah tersenyum dan bersahabat dengan Rena. Karena sosoknya yang unik membuat mereka ingin bersahabat. Sempat pula ada rumor bahwa mereka bertiga terlibat cinta segitiga.
Malam yang dingin itu cair dan menjadi hangat begitu saja melihat canda tawa tiga sahabat itu. “Makasih ya Ren…uda traktir kita,” kata Uky. “Sama-sama juga kali,” kata Rena. ”Aku bangga banget punya sahabat kayak kamu Ren, mandiri banget. Aku jadi malu lebih tua dari kamu malah belum punya penghasilan apa-apa,” kata Vino. Rena tersenyum dan menggandeng tangan mereka berdua. ”Aku juga bangga kok punya sahabat kayak kalian selalu nemenin aku waktu kesepian. Terus kalau tiap malam selalu nunggu aku pulang kerja dan anter aku kost, makasih ya?”
Rena memang sosok yang madiri, dia pindah ke Jogja karena ibunya telah meninggal dan dikubur di Jogja juga. Rena begitu cinta kota Jogja sehingga dia tidak ingin kembali ke Jakarta. Sebetulnya faktor lain karena Rena benci melihat ayahnya yang telah punya istri baru. Sosok istri barunya itu sosok yang tidak baik dianggap Rena. Karena ibunya meninggal kaena sakit hati terhadap ayah dan istri barunya. Rena begitu sakit hati sehingga berjanji pada dirinya tidak akan balik ke tanah kelahirannya itu. Rena sebetulnya dahulu tinggal di tempat pakde dan bude nya, tapi dia tidak mau merepotkan lagi, sehingga dia memilh untuk menempati kostan dan hidup mandiri.
Matahari yang mulai terik memanasi kota Jogja siang itu. Rena yang masih memejamkan matanya di kasur masih tampak terlihat capek sekali. Hari yang di ambilnya untuk libur, ia gunakan untuk istirahat. Tapi , ketukan pintu membuatnya terbangun. Dengan raut wajah ang masi capek dan ngantuk Rena membukan pintu,dengan mata yang masih sipit dan rambut yang masih berantakan. Vino tersenyum saat melihat sahabatnya.
”Vino? Duduk dulu deh. Aku cuci muka dulu,” kata Rena. Vino duduk di teras kost, yang sudah tersedia kursi dan meja untuk tamu, karena laki-laki tidak boleh masuk ke dalam kamar.
Lima belas menit kemudian Rena menghampiri Vino, Rena tampak rapi dari sebelumnya. ”Sory agak lama, aku mandi sekalian Vin.”
Vino lagi-lagi memberikan senyum.
”Kamu kok gak kuliah Vin? Uky mana?”
”Uky lagi di bengkel. Aku memang gak ada jadwal hari ini. Udah makan kamu?”
”Belum, baru aja bangun,” jawab Rena sembari mengikat rambutnya yang panjang.
”Kita jalan yuk? Makan gitu?” Vino tersenyum. Rena menganggukan kepala dan langsung mengunci pintu. Rena hanya menggunakan kaos hitam den celana pendek sedengkul serta sandal jepit, pergi menuju warung makan sekitar kost. Panas terik tidak jadi masalah bagi mereka, merka memasuki warung makan yang ramai dikunjungi orang, menu-menunya terdiri dari menu sambal semua, kebetulan itu warung favorit tiga sekawan itu. Semua orang tampak menikmati hidangan yang disediakan, termasuk Vino dan Rena.
”Hari ini aku gak bisa lama-lama, mau nyuci baju,” kata Rena. ”Um..gak apa-apa Ren,”kata Vino sambil melahap hidangan. ”Aku ke toilet dulu ya Vin,” kata Rena. Vino pun menganggukan kepalanya.
Kebetulan toiletnya hanya satu, dan pintu juga rusak kunci. Rena terpaksa memegangi handle pintu. Tampak dari luar memaksa membuka pintu. Rena buru-buru keluar dan menyiramkan air ke muka orang tersebut.
Tampak laki-laki berambut ala Justin Bieber, menggunakan jas rapi , menatapnya dengan penuh amarah. Rena memloti orang itu. ”Mas, bisa sopan gak? Kalau keras dibukanya berarti ada orang, Mas!” Rena membentak lalu pergi. Laki-laki itu kemudian menarik lengan Rena.
”Loe..harus minta maaf sama gue, karena udah bikin jas mahal gue basah. Lo tau gue ini pemilik perusahaan kaya nomer dua di Jakarta!” laki-laki itu keras menggenggam lengan Rena. ”Lo kaya kan? Lo bisa beli seratus juta jas yang sama kayak gini...gue emang kere. Tapi Mas, kita sama-sama bayar di sini! Jadi tolong lepasin tangan lo..sakit tau!” kata Rena menginjak kaki orang itu, Rena berlari ke arah Vino. ”Vin ayo pulang,”kata Rena terburu-buru. Vino bingung, lalu ikut berlari juga.
Di jalan Rena menceritakan kejadian barusan kepada Vino. Vino tertawa melihat tingkah sahabatnya yang lucu itu.
Hari begitu cepat berlalu, pengalaman kemarin membuat Rena tertawa sendiri, dia mulai kembali bekerja di cafe ”C.O.T”. Jam sepuluh cafe di buka tampak begitu sepi, karena mahasiswa belum ramai datang ke cafe. Vino pembeli pertama yang duduk untuk memesan cake siang itu, barulah bermunculan mahasiswa lainnya.
Tampak Uky membawa teman baru ke cafe itu. Semua pelayan tampak hormat terhadap teman Uky kecuali Rena. Rena msih sibuk di dapur mencuci piring. ”Ini Vin....yang punya cafe ini, ayahnya temanya bapakku. Dia lagi tinggal di rumah ku Vin, namanya Marcel,” Vino meberikan salam kepada Marcel. ”Si Rena mana ya Vin? Mau aku kenlin sama temenku ini” tanya Uky. ”Tadi aku tanya temennya...katanya lagi sibuk di belakang,” kata Vino.
Rena berlari menghampiri Vino dan Uky. ”Ren, kenalin teman aku namanya Marcel dia bos kamu loh!” kata Uky. Rena kaget melihat Marcel. ”Kamu...bos aku? Oh my God, kalau kamu mau pecat aku gak apa-apa kok....,” kata Rena. ”Ren kok kamu ngomong gitu?” kata Vino. ”Dia yang kemarin jasnya aku siram air. Ya udah aku ke belakang dulu ya mau ganti seragam,”kata Rena. Marcel hanya diam dan tersenyum tipis dan sinis.
Beberapa jam kemudian Rena pergi meninggalkan mereka begitu saja. ”Um....Rena tuh rajin ya di cafe kamu ini! Kalau kamu pecat dia Cuma gara-gara hal konyol kemarin....itu ga adil, ngerti Bos!” bentak Vino berlari menuju Rena. ”HeMM...pacarnya ya?” tanya Marcel kepada Uky. ” Siapa? Vino? Bukan...oh ya aku harap kamu gak pecat dia ya Marcel..dia sohib aku..dia rajin di cafe kamu,” kata Uky. ”Huwf...aku gak pecat dia, dia yang mengundurkan diri kan?”
”Hm....ya udah ikut aku yuk,” kata Uky.
Marcel dan Uky menaiki mobil menuju kostan Rena. Uky menceritakan semua tentang Rena kepada Marcel. Marcel menjadi merasa tidak enak pada Rena, sebenanya dia juga yang salah. Marcel juga cerita masalahnya terhadap Rena.
Rena tampak sedang mengobrol di teras kostan bersama Vino, Terlihat Rena bersandar di bahu Vino. ”Mereka pacaran tuh...,”kata Marcel. Uky tampak sinis melihat Rena dan Vino dari kaca mobilnya. ”Gak..ya uda kita turun. Pokoknya kamu harus bujuk dia masuk ke Cafe kamu,” kata Uky.
Rena kaget melihat bosnya dan Uky datang ke kostannya dia. ”Ngapain lo di sini? Janagan harap saya akan minta maaf ya!!” Rena berdiri sambil melotot.
”Ren...sabar dong, tunggu Marcel ini ngomong,” kata Uky sambil mengelus pundak Rena. ”Tadinya gue ke sini mau bujuk lo untuk kerja di cafe lagi. Lagian masalah kemarin udah gua lupain, oh..ya gue harap lo jangan ulangi sifat lo yang tadi minta berhenti kerja. Childies banget tau! Um..tadi gue ga sempet makan di cafe, laper nih..lo semua gue traktir deh...,” kata Marcel balik menuju mobil.
Jalanan Jogja cukup ramai di sore itu. Mereka bertiga menuju arah salah satu Mall terbesar di Jogja. Ramai juga Mall siang itu tampak anak-anak ABG masih menggunakan seragam hilir mudik menatap Vino, Uky dan Marcel.
Rena tersenyum melihat tingkah ABG sekarang. Marcel masuk ke dalam resto mahal China. Hidangan masakan China yang berupa sea food tersaji di atas meja. Rena menelan ludah dan mengingat saat dulu bersama ayah, ibunya sering makan-makanan seperti itu. “Hei di makan dong,” kata Marcel. “Iya…um…” Vino dan Uky langsung menatap Marcel dan Rena.
Besok paginya Rena memulai aktivitas kembali bekerja lagi. Lagi-lagi hujan deras menghiasi sekelilng café C.O.T dan sekitarnya. Ramai mahasiswa yang sedang berpacaran di café itu ada juga yang asyik bergosip bersama teman-temanya.
Rena hilir mudik mengntar pesanan. Kala itu terlihat Marcel tanpa Vino dan Uky memasuki café, semua pelayan tampak hormat. “Hai..Bos..em…Uky dan Vino ke mana ya?” tanya Rena. “Gue fikir mereka ada di sini, tapi kok gak ke sini ya?” jawab Marcel. “Um….Bos mau pesan ap?” tanya Rena sambil membawa pensil dan catatan kecil.
“Teh hangat aja sama vanilla cake. Oh iya..kamu kenapa gak kuliah?”
”Um...lagi ngumpulin aja kok Bos. Bentar ya Bos...”
Kemudian Rena kembali lagi membawa pesanan. “Um..duduk Ren. Temenin gue ya?”
“Tapi..Bos, ini jam kerja.” kata Rena berbalik arah. Lagi-lagi Marcel menggengam lengannya. “Gue Bos di sini. Gue minta lo duduk, temenin gue,” kata Marcel. Rena mengangguk tidak habis pikir dengan sifat aneh bosnya ini, kadang baik dan kadang galak.
Mereka mengobrol ke sana kemari. ”Vino pacar lo?”
”Bukan Bos, sahabat aja ko,” kata Rena tersenyum. ”Oh..kalau Uky? Oh iya kalau di suruh pilih? Mau yang mana?”
”Um...gak lah mereka itu aku anggap sahabat.”
”Kalau gitu...kamu uda punya pacar?”
Rena menggelengkan kepalanya. ”Ya udah pacaran sama gue aja ya?” Rena kaget mendengar ucapan Marcel. Belum pernah ada cowok yang nembak dia, karena kedektersama Uky dan Vino.
tolong tnggal komentar
BalasHapuscerita nya bagus sis..
BalasHapuskapan" di di terbitin dong lewat koran atau apa gitu mungkin ada yang seneng juga ntar..
:p
Hapussaya ga tau dimana tu pak..nerbitinya
mungkn bpak bs bantu