Senin, 19 September 2011

Vidi Aldiano-Lagu Kita


meskipun aku bukan siapa-siapa, bukan yang sempurna
namun percayalah hatiku milikmu
meski seringku mengecewakanmu, maafkanlah aku
janjiku kan setia padamu, hanyalah dirimu

aku milikmu, kau milikku
takkan ada yang pisahkan kita
ini lagu kita tuk selamanya
janjiku untukmu takkan tinggalkan dirimu

meski seringku mengecewakanmu, maafkanlah aku
janjiku kan setia padamu, hanya dirimu

aku milikmu, kau milikku
takkan ada yang pisahkan kita
ini lagu kita tuk selamanya
janjiku untukmu takkan tinggalkan dirimu

lagu ini akan menjadi saksi
tulusnya hatiku cintaimu ooh

aku milikmu, kau milikku
takkan ada yang pisahkan kita
ini lagu kita tuk selamanya oh janjiku untukmu

(aku milikmu, kau milikku)
takkan ada yang pisahkan kita
ini lagu kita tuk selamanya
janjiku untukmu takkan tinggalkan dirimu
janjiku untukmu takkan tinggalkan dirimu
takkan tinggalkan dirimu

Jumat, 16 September 2011

cerpenku


Promise Ladies

Kezi dia cantik, gonta-ganti pacar tiap harinya , punya lebih dari satu pacar. Christin setia sama pacarnya yang udah tiga tahun pacaran, tapi karena pacarnya seumuran dan ke kanak-kanakan jadinya serin banget berantem. Diana, saat ini masih jomblo dan pendiam banget, pinter katanya pengen hidup bebas tanpa di kekang, karena mantannya over protektif.

Pagi yang cerah untuk memulai hari. Di temani mentari tiga orang sahabat berjalan sambil tertawa riang.

“Gila…lo tambah cantik aja Kez, beh.. tasnya ganti lagi, sepatu….,” kata Christin.

Kezi hanya tersenyum menampilkan behelnya yang berwarna-warni.

“Wah….ajib…behel,” kata Christin.

“Dari pacar lo yang mana ni?” tanya Diana.

“Tas dari Geri, sepatu dari Ciko dan behel dari Mike…, gua gak minta ko. Mereka yang kasih ini semua,” jawab Kezi.

Diana dan Christin menerawang daleman Kezi.

“Umm….apa si natapnya gitu?,” kata Kezi.

“Janga bilang.. yang di situ..juga dibeliin,” kata Diana geleng-geleng.

Kezi tersenyum menatap Christin dan Diana, lalu merangkul mereka.

Malam sepi Diana dan Kezi berencana meginap di rumah Christin, karena orang tuanya lagi pergi ke luar kota. Kami berjalan, menuju kamar Christin, karena pintunya tidak dikunci dan kami kelamaan memencet bel, jadi kami masuk ke dalam.

Terlihat puluhan tisu bekas tangisan Christin berserakan di lantai kamarnya, Christin menangis sambil menutup mukanya dengan bantal.

“Chris…..? kenapa?,” Tanya Diana.

Christen terus menangis tanpa henti.

“Palingan lagi berantem sama si Doni. Paling gara-gara masalah kecil terus putus terus besok nyambung lagi,” kata Kezi memunguti tisyu dan menaruhnya di tempat sampah.

“Jahat..lo….,” kata Chrstin melempari Kezi dengan Tisyu.

Kezi hanya tertawa terbahak-bahak, dan terdengar semua handphonenya berdering.

“Dari pacar-pacar lo tuh..gak lo angkat?? Dasar,” kata Diana.

Terdengar suara bel berbunyi.

“Tadi gue pesen pizza….em…buat hibur lo tuh, hahahha, bentar gue ambil hari ini gue trtir. Biar aja hp gue bunyi puing gue!” kata Kezi berlari ke pintu.

Kezi membuka pintu dan merasakan getar-getaran aneh menatap orang yang mengantar.

“Makasih ya Bang Lupus,” kata Kezi.

Tukang pizza itu lalu pergi tanpa meninggalkan senyum. Kezi sebal melihat tingkah pengantar pizza itu.

Kezi mendobrak pintu kamar Christne, sontak Diana dan Christne kaget.

“Apa-apan sih lo?,” kata Diana.

“Sory Cuma mau bikin lo semua kaget aja, heheheh,” kata Kezi tertawa kecil.

Mereka asyik menikmati pizza di kamar Christine. Christine kembali tersenyum memakan pizza dan mendengar kekonyolan Kezi.

“Guys..gua mau ngomong sama kalian,” kata Diana serius.

Mereka tiba-tiba hening dan berhenti tertawa.

“Kenapa si Di?? Hah,” tanya Kezi.

“Gini gua mau nanya sama lo Chris, lo capek gak si? Putus nyambung terus,” tanya Diana.

“Capek banget..sebel gua. Doni gak pernah mau ngalah…,” kata Christine hampir meneteskan air mata.

“Okay..udah gak sah nangis. Dan lo Kezi capek gak si jadi playgirl??”

“Capek banget…si, hup mesti balesin sms, angkat telepon, ganti-ganti cowok…”

“Okay kesimpulannya kalian tuh udah capek kan sama kehidupan kalian yang kayak gini terus. So….,”

Diana terdam dan berpikir lama.

“Somay? ,” ujar Kezi.

“Soto kali , Kez…hahha,” kata Christin.

“Hei..gue lagi serius! So kalian harus berhenti untuk hubungan sama cowok-cowok lagi, gimana?”

“What..?”

“Apa..?”

“Christine , Kezi kalian sendirikan yang bilang capek, kesel dan sebagainya. Gue sebagai sahabat Cuma bantu kalian aja kok, gimana?”

Christine dan Kezi mengangguk.

Diana menulis di sebuah kertas folio, perjanjian dengan sahabat-sahabatnya, kalau sampai ada yang melanggar maka harus jajanin pizza Selama satu tahun. Ia memberi materai dan menyuruh sahabatnya tanda tangan.

“Oh iya..Di, lo juga kena dong. Jangan gue ma Kezi aja.”

“Iyah..gue juga. Lagian gue emang lagi gak mau pacaran kok.”

“Hahh? Bukannya lo lagi deket sama Aldo,” kata Kezi.

“Deket bukan berarti pacaran.”

“Tunggu deh, lo juga gk bleh deket sama Aldo,” kata Christine.

“Iyeh…..”

Diana menandatangani perjanjian itu juga. Malam itu berakhir dengan perjanjian dari ladies-ladies.

Seminggu berlalu sudah, Christine merasa tidak kuat menjalani perjanjian itu, dia diam-diam bertemu dengan Doni menyamar dengan pakaian yang rapat agar tidak ketahuan Kezi dan Diana.

Dua minggu berlalu diam-diam Kezi pun selalu datang ke toko Pizza untuk bertemu Lupus, pengorbanannya begitu susah ditaklukan. Dan selalu delivery pizza.

Diana merasa curiga dengan tingkah Kezi yang terus-terusan delivery pizza, dan Christine yang susah untuk di temui. Diana mau tidak mau meminta bantuan Aldo untuk memata-matai Christine dan Kezi. Ternyata feelingnya benar mereka batalin janji.

Di mall itu Aldo dan Diana selesai membututi Kezi, tak sengaja bertemu dengan Christine dan Doni, lalu Kezi muncul bersama Lupus.

Mereka semua terdiam.

“Kezi, Christine… ikut gue,” bentak Diana menyeret Kezi dan Christine dan dudu di sebuah taman dekat mall.

“Sebelum lo marahin gue mestina lo ngaca dulu, lo juga jalan sama Aldo. Jadi kita sama aja, gue mau stop perjanjian munafik ini….,” kata Christine pergi.

“Iyah… gue juga mundur deh, sahabat gak akan ngekang sahabatnya masalah urusan priadi khususnya masalah cowok. Lo juga ngelanggar janji.. lo sama aja Di, bye..,” kata Kezi ikut pergi.

Diana kaget dan kaku mendengarkan ucapan-ucapan sahabatnya, dan meneteskan air matanya. Aldo datang menghampiri Diana mengelap air mata Diana.

“Sebenernya ada apa sih? Lo boleh kok cerita sama gue,” kata Aldo.

Diana menceritakan semuanya kepada Aldo. Aldo pun memeberi saran kepada Diana, dan menenangkannya.

Satu Minggu sudah mereka bertiga tak bertemu dan berkumpul. Diana, Kezi dan Christine merasa ada yang hilang dalam diri mereka. Mereka layaknya celana, kaos dan sandal selalu dipakai bersama. Tapi kini mereka bertengkar tidak jelas seperti ini.

Mereka bertiga berpapasan di kantin, tanpa m=pemikiran mereka saling memelug dan meangis.

“Gue kangen kalian…..maafin gue,”kata Diana.

“Maafin gue juga, gue kangen juga sama kalian….,” kata Christine.

“Iyah maafin gue juga, jangan lagi berantem,” kata Kezi.

Diana memgeluarkan kertas folio dari tasnya dan menyobeknya.

“Kita sahabat…gak bakal saling ngekang, dan perjanjian ini gue batalin,” kata Diana membuang sobekan kertas itu ke tong sampah.

Akhirnya hari berjalan seperti biasa. Tetapi, Kezi suadah tobat menjadi cewe matre dan play gril, sekarang dia berhasil mengerti arti cinta bersama Lupus yang penuh dengan kesederhanaan. Christine tetap setia bersama Doni, walaupun putus nyambung itu yang membuat hubungan mereka awet sampai tiga tahun. Sedangkan Diana yang dulu selalu menutup pintu hatinya buat cowok, akhirnya dibuka oleh Aldo yang mengerti isi hatinya. Persahabatan kadang kala memang unik, selalu ada pertengkaran, justru orang yang dekat sama kita, pasti lebih sering membuat kita panas, walaupun begitu sahabat itu seperti mentari yang selalu menghangatkan kita.

TAMAT