Sabtu, 20 Agustus 2011

Kepergian Mata Hatiku


“Ah……gak.”

“Kenapa kamu Res?”

Resti terbangun dari mimpi buruknya, keringat menetes, dengan balutan perban di matanya.

“Kak, kenapa Gak aku aja yang mati si kak? Biar Galang yang pakai mata aku, dan aku yang mati kak, atau aku buta tapi Galang tetap hidup,” kata Resti merengek.

Kak Radit merangkul Resty, dan mengusap kepalanya.

Mama datang bersama papa.

“Dit, Resty kenapa??”

“Ini ma..biasa mimpi buruk lagi.”

“Res..kamu jangan sedih lagi dong, kasian Galang di sana.”

“Humm…semua gak ngerti perasaan Resti,” teriak Resti.

“Kami ngerti sayang, besok kamu udah pulih kok, perban kamu udah bisa dibuka.”

“Papa, Resti gak peduli!”

“Udah Res, kamu jangan seperti ini terus, em….Kak Radit janji bakal ajak kamu ke makam Galang.”

“Bener kak?”

“Iah…tapi tunggu kamu pulih dulu ya.”

Besok paginya perban mata Resti dibuka dokter pelan-pelan. Resti mulai membuka matanya, rasanya Resti selalu melihat bayangan Galang. Galang adalah teman sekelas Resti, mereka mengalami kecelakaan saat Resti ulang tahun yang ke 17, 17 Februari dan kejadian itu sudah dua minggu yang lalu. Masa kritis mereka 1 minggu , dan Resti divonis buta. Galang juga membutuhkan darah yang banyak, tetapi Galang sempat mengetahui bahwa kekasihnya buta. Galang menyerahkan matanya sebelum dia meninggal.

“Kak, Resti mau ke kuburan Galang.”

“Sekarang?”

“Kakak udah janji.”

“Tapi…”

“Pokoknya sekarang,Kak.”

“Resti sudah boleh kok kemanapun, asal juangan terlalu capek. Untuk sementara, Resti pakai kursi roda dulu,” kata dokter.

Sebelum menuju ke rumah, mereka semua menuju makam Galang. Resti buru-buru memutar kursi rodanya, dan menuju ke makam Galang.

“Galang, ini aku sayang, kenapa si Galang kamu mesti pergi? Hkz….mata kamu sekarang jadi milik aku, dan bayangan tentang kamu selalu terngiang sayang,” Resti menangis dan menaburkan kembang.

“Liat untuk pertama kalinya aku jatuhin air mata ini, buat kamu.”

Kak Radit, Mama, dan Papa hanya terdiam dan merasa sedih melihat keadaan Resti. Kak Radit berjalan kea rah Resti.

“Uda, Dek. Kamu gak kasian sama Galang? Dia nangis juga lihat kamu seperti ini, udah stop yah?” kata Radit sambil mengelap air mata Resti dan mendorong kursi roda Resti.

Sampai di rumah Resti menatap foto-foto dia bersama Galang.

“Ini, waktu kecelakaan orang yang ngevakuasi nemuin kotak hadiah ini.”

“Apa tuh ma?”

“Mama juga gak tau, mungkin ini kado dari Galang buat kamu.”

Resti membuka kado berlapis pita, dan bercorak kupu-kupu. Karena Resti sangat suka kupu-kupu.

“Dairy?? Dairy kupu-kupu.”

Terselip selembar kertas surat dari Galang. Resti membuka dan membacanya.

Kamu seperti kupu-kupu

Kamu membawa terbang hatiku

Kamu begitu indah, lebih dari sayapnya

Kamu dan aku seperti sepasang kupu-kupu yang selalu bersama

Jika Tuhan memisahkan kita itu bukanlah kematian buat kita

Karena walaupun aku pergi, bayanganku selalu di matamu…..dan hatimu

Happy Bdays MY butterflylovly

Semoga seneng yah ama kadonya

Salam sayang,

Muaach

Galang

Resti meneteskan air matanya membaca surat dari Galang. Mama pun mendekat dan mengusap air mata Resti.

“Udah ya Res, jangan nangis terus, mama sedih Res.”

“Hkz…kenapa ma, Galang cepet ninggalin aku nya ma?”

“Udah ya sayang, kamu istirahat yah.”

Besok paginya, Resti terbangun oleh seseorang.

“Selamat pagi, say?”

“Andin?? Lo ngapain ke sini?”

“Mau ngajak jalan-jalan pagi dong, sinar mataharinya masi cerah loh.”

Resti tersenyum melihat sahabatnya yang mengunjunginya pagi-pagi buta. Andin tinggal di samping rumah Resti, mereka sahabatan dari Sd, tapi SMA mereka berbeda.

Resti, Radit dan Andin pun mengajak ke taman kota. Untuk merasakan kesejukan pagi-pagi.

“Kak Radit, Andin, bisa kan tinggalin aku sendiri. Nanti aku sms kalian kalo udah selesai.”

“Lo yakin?”

“Iyah , Ndin.”

“Ya udah, Kakak sama Andin cari bakpau kesukaan kamu yah.”

“Iyah, Kak.”

Resti mengeluarkan diary dan mulai menulis.

8 Maret

Ini pertama kalinya aku nulis dairy ini.

Aku lagi di taman kota, tempat biasa kita nyari kupu-kupu sayang.

Tempat waktu kita makan bakpau berdua sama kamu.

Miss u Galang

Entah mengapa bayangan mu selalu ada di depan mataku,

Apa karena aku memakai matamu….

Bayangan saat kita bersama…..

I miis u Galang

One name for one heart……..

Resti terbawa lamunan dengan senyuman, dari arah lain tiba-tiba ada yang menyenggolnya dan mengakibatkan dairynya terjatuh.

“Aduh..sorry ya, gak sengaja,” kata orang itu.

Resti terdiam melihat gaya orang itu tersenyum, dengan lesung pipi yang tidak asing.

“Galang??”

“Aduh..sorry, gue mesti buru-buru nih..”

Tiba-tiba handphone Resti berdering dan mengagetkannya.

“Halo? Apa Kak?”

“Gimana? Kakak udah boleh kesitu?”

“Em…boleh-boleh, Kak.”

Di mobil saat mereka pulang.

“Em..kamu besok udah mulai pindah di sekolahnya Andien loh.”

“Apa?”

“Iah..besok, lo satu kelas sama gue kok.”

“Kok pindah?”

“Em…yah udah lama kamu absent dari sekolah kamu, Mama sama Papa gak enak gitu.”

“Oh..bukan untuk ngehilangin kenangan aku sama Galang kan?”

Andin dan Radit pun terdiam.

“Kok gak dijawab si?”

“Ah….gak mungkin lah, Res? Lo gak mau satu kelas sama gue?”

“Em..gak gitu, tapi ya udah deh.”

Besok paginya saat sarapan.

“Kaki kamu udah kuatkan,” kata Papa.

“Udah kok pa,” jawab Resti.

“Kamu senengkan satu kelas sama Andien?” tanya Mama.

“Seneng, Ma. Tapi Resti pindah bukan karena kalian pengen Resti ngehilangin kenangan sama Galang kan?”

Susana jadi hening, tidak ada yang berani menjawab. Tetapi tak selang beberapa lama, Andin datang memecahkan keheningan.

“Pagi Om, Tante, Kak, hai Res?” kata Andin.

“Hai Andin, sarapan yuk,” kata Mama.

“Gak Tan, makasih….tadi aku udah sarapan kok di rumah. Res, lu udah baikan kan?”

“Humm..lumayan si, berangkat aja yuk.”

“Maaf ya, papa gak bisa antar kamu, yang antar nanti Kak Radit.”

“Iyah, gak apa-apa. Aku berangkat ya Ma, Pa.

“Tan, Om…aku juga berangkat ya.”

“Titip Resti ya Andin.”

“Iya, Tan.”

Merekapun pergi ke sekolah SMA Graha Nusantara. Mereka masuk ke ruang kepala sekolah.

“Ini Kak ruang kepsek, em…Res gue tinggal ke kelas ya?”

“Iyah dah, Makasih ya, nanti kita ketemu di kelas.”

“Thanks ya, Andin.”

“Ok Kak, Res,” kata Andin berlari ke kelas.

Resti menunggu wali kelasnya bersama Kak Radit.

“Oh, ini Resti Angguni ya? Salam kenal, saya ibu Putri.”

“Oh iya buk.”

“Em…bu saya Kakaknya, titip Resti ya.”

“Iyah..pasti, ayo Resti ke kelas sama Ibu.”

“Res, Kakak ke kampus dulu ya? Udah telat nii.”

“Iyah, Kak.”

“Mari Bu.”

Resti berjalan ke kelas bersama Ibu Putri.

“Bu, saya boleh ke toilet dulu gak?”

“Oh boleh, toiletnya di sana ya, nanti kamu cari aja kelas 11 Ips 3.”

“Oh iya, Bu, makasih.”

Resti ke toilet untuk buang air kecil. Setelah itu dia keluar dari toilet.

“Aduhh…,” teriak Resti yang bertabrakan dengan seseorang.

“Maaf ya, gue ke buru-buru gara-gara telat,” kata orang itu sambil tersenyum.

Resti menatap lesung pipinya, dan orang itu sepertinya tidak asing buat dia.

“Galang?”

“Galang? Gue Pria.”

“Oh sorry, em..lo tau kelas 11 Ips 3 gak?”

“Oh kebetulan sampingan ma kelas gue. Lo anak baru ya?”

“Iyah.”

Mereka berbicara sambil jalan.

Mereka sampai di depan kelas.

“Sorry ya, gue masuk dulu, udah telat.”

“Iyah, makasih ya.”

Resti mengetuk pintu kelas.

“Permisi bu, maaf saya lama.”

“Gak apa-apa kok. Anak-anak kenalkan ini Melina Resti Sanjaya. Teman baru kalian, ayo silakan Res, kenalin diri kamu.”

“Em…saya Melina Resti Sanjaya, pindahan dari SMA Negeri 11.”

Pelajaran berlangsung Resti duduk di sebelah Andin.

“Tau gak?? Ada yang mirip sama Galang di kelas sebelah.”

“Humm…masag si?? Siapa?”

“Lupa dah gue.”

“Yee…”

Dari belakang Resti dicolek.

“Em..hai kenalin gue Tifani.”

“Oh..iya, hai..gue Resti.”

Resti memandangi keanggunan Tifani, dia benar-benar indah seperti kupu-kupu, senyumnya bagaan sayap kupu-kupu yang merekah.

Istirahat pun tiba, dari arah pintu terlihat cowok yang mirip Galang tersenyum melambai kan tangan.

“Emm….Ndin, itu..itu..itu…..”

“Apa sih?”

“Pria…sini aku belum kerjain pr,” kata Tifani.

Pria pun berjalan ke arah Tifani.

Pria tersenyum ke arah Resti juga.

“Em..dia pacarnya Tifani??,” bisik Resti.

“Gue juga gak ngerti..kayak HTS gitu!”

Restipun menghela nafasnya.

Saat di rumah Resti membuka diarinya.

9 Maret

Dear dairy, sekolahan baru yang membuat aku bingung.

Dia seperti Galang, lesung pipinya, senyumnya.

Hauw…

Apa-apaan ni, aku membandigkan sayangku dengan yang lain.

Bagiku kamu Galang gak bakal terganti

Aku sayang banget…ma kamu

Kangen…waktu saat-saat di sekolah sama kamu….

:I miss u

Resti berbaring di kasurnya, dan bermimpi yang membuat dia shock.

“Ahhh…Galaang…..”

“Resti kamu gak apa-apa?”

“Mama…Galang Ma,” kata Resti menangis.

“Udah Resti, yang gak ada jangan kamu tangisin terus, biar dia bahagia,” kata mama sambil memeluk Resti.

Besoknya di sekolah, Resti dan Andin berjalan ke kelas.

“Hmm..jadi cowok yang lo bilang mirip Galang itu Pria?”

Restipun mengangguk.

“Astaga gue seneng berarti lu bisa buka hati lo dong?”

“Maksud lo? Gue harus lupain Galang gitu? Basi lo!”

Resti berlari pergi meninggalkan Andin.

“Res..Res…,” teriak Andin.

Resti duduk di taman dan melamun, sambil membuka diari nya.

“Hei……”

“Pria..,” Resti menutup diarinya dan buru-buru memasukannya.

“Kok gak masuk kelas?”

“Emm..bentar lagi kayaknya.”

“Oh…tunggu deh lo kayaknya sebelum masuk sini pernah gua liat di taman kota?”

“Iyah..itu gue.”

Mereka berdua terhening sejenak.

“Kayaknya..lo pke kursi roda deh, oh iya..sambil jalan yuk.”

“Emm..iya…gue abis kecelakaan, gua juga mau ke kelas kok.”

“Kalo gue liat-liat mata lo bagus juga ya.”

Merekapun terhening dan Resti terdiam. Dari arah lain Andin datang.

“Res…maafin gue,” kata Andin.

“Emang siapa yang marah, dasar gua tadi Cuma butuh sendiri aja kapan sii gua marah ma lo.”

“Tunggu deh katanya lo mau sendiri?? Tapi kok sama Pria?”

“Em..tadinya dia sendiri tapi gue yang nyamperin, jadi tadi gue ganggu lo ya, Res?”

“Ah…gak kok.”

Saat sampai di kelas terlihat Tifani sudah berdiri di depan kelas.

“Pria..kamuu ke mana aja si? Udah mau masuk baru dateng,” kata Tifani sambil memegang tangan Pria.

Resti dan Andin berjalan ke kelas duluan.

“Tadi gue datengnya ngepas, kata Pria.”

Resti dan Andin duduk langsung.

“Tifani agresif banget…gak..gak bakal gue rebut tuh si Pria.”

“Hahahha emang gitu, lebay, tapi Prianya tetep gitu dah cool.”

Dengan jalannya yang berlenggak-lenggok Tifani berwajah jutek mendatangii tempat duduk Resti dan Andin.

“Hehh….lo mau rebut Pria?” bentak Tifani.

“Lo ngomong sama siapa?” tanya Andin.

“Sama anak baru ni…,” tunjuk Tifani.

“Gue gak peduli lo ngomong apa! And I don’t care you know!”

“Belagu banget lo, anak baru aja songong.”

Resti hanya diam saja, selang beberapa waktu kemudian ada guru yang datang, Tifani menatap sinis Resti lalu duduk.

Pulangnya, Resti menunggu jemputan.

“Res, gue duluan ya? Gue gak langsung pulang, soalnya.”
“Mang lu mau ke mana, Ndin?”

“Gue mau beli kue buat arisan nyokap ntar malam.”

“Mau gue temenin?”

“Gk usah, nanti lo capek.”
“Bener?”
“Iyah…sory ya.”

Andin melambaikan tangan ke Resti lalu masuk ke dalam angkot.

Resti berdiri sendirian di depan gerbang. Pria datang mengendarai motornya.

“Lo belum pulang?”

“Belum.”

“Bareng gue aja yuk.”

“Gak usah.”

Beberapa menit kemudian handphone Resti berderring.

“Hallo? Kak kok lama?”

“Sorry Res, kamu naik taksi dulu ya sama Andin, kakak ada kuliah tambahan and ga bisa jemput kamu.”

“Yah..ya udah, Kak. Aku naik taksi aja.”

Resti mencari taksi.

“Lo gak biasa naik motor ya?”

“Maksud lo?”

“Ayo gue anterin aja. Gak sah pake taksi pake ojek aja.”

“Gak usah.”

“Kenapa lo jadi jutek si. Gue kan niat baik.”

“Sorry ya Pria gue gak mau cari ribut.”

“Maksud lo apa?”

“Em…Tifani.”

“Oh..dia gak sah lo peduliin. Ayo udah naik aja. Taksi jarang lewat, Res.”

Pria tersenyum, dan membuat hati Resti luluh. Resti duduk di belakang membonceng Pria.

Resti di antar sampai depan rumahnya.

“Makasih ya.”

“Iyah..sama-sama, soal Tifani lo gak usah peduliin ya.”

Lalu mama Resti datang mengagetkan Resti.

“Loh Radit mana? Ini siapa?”

“Em..Kak Radit ada mata kuliah tambahan. Mama mau ke mana?”

“Mau bantuin mamanya Andin, nanti sore ka nada arisan di sana. Temennya suru masuk, Res.”

“Ah iya, Ma.”

Pria tersenyum kepada mama Resti yang berjalan ke rumah Andin.

“Gue pulang dulu ya. Sorry gak bisa mampir.”

“Em…gua gak bilang lo suruh mampir juga. Gue juga capek.”

Resti berbalik dan masuk ke dalam rumah. Pria hanya menggelengkan kepala dan pergi.

Resti merebahkan dirinya di kasur membuka dairynya.

10Maret

Dear dairy,

Perasaan apa ini…..

Sosok pria kenapa membuat batinku tersiksa..

Aku belum mengenalnya lama…..tapi mengapa???

Kupu-kupu aku ingin berflying bersama kupu-kupu

Yang tak pnah mnangis seperti ini,,,,

Aku akan tutup hatiku,,,,

Dan aku hhanya cinta Galang seorang….kan ku buktikan kesetiann ni…

Miss u Galang

Resti lov Galang

Kembali lagi ke sekolah besoknya papan mading begitu penuh di setiap kelas terpajang pengunguman.

“Andin? Kok papan mading penuh banyak anak-anak.”

“Iyah ada pengumuman apa ya?”

“Prom Night, hah? Gaka bakal dateng gue.”

“Kenapa, Res?”

“Karena udah gak ada lagi Galang.”

Tiba-tiba Pria menyambar omongan Resti dan Andin.

“Galang? Siapa tuh?”

“HM…gak sah ikut campur, ayo Ndin ke kelas.”

Resti menggeret Andin buru-buru masuk kelas meninggalkan Pria.

“Lo kok jadi aneh gitu si sama Pria?”

“Aneh gimana si?”

“Ya jadi jutek gitu.”

“Biarin deh.”

“Bukannya lo kemarin baru diantar pulang sama Pria?”

“Emmm…iyah, lo tau dari mana?”

“Dari nyokap lo.”

Resti terdiam dan merenung sambil menghela nafas.

Pulangnya Radit menjemput Resti. Dari belakang terlihat pria.

“Radit…lo kenal Resti?”

“Eh..elo Pria?? Ini adik gue kali.”

Resti dan Andin bingung.

Resti langsung masuk ke mobil tanpa perdulikan Pria. Andin mengikutinya duduk di belakang. Pria dan Radit asik ngobrol di luar mobil.

“Udah kayak ibu-ibu ngegosip kakak gue, lama bener.”

“Sabar kali, Res.”

Kemudian Resti membuka kaca mobilnya.

“Kak, ngobrol-ngobrolnya bisa kapan-kapan lagi. Gue udah laper.”

Radit menoleh dan langsung masuk ke dalam mobil.

“Kok lo kenal Pria si?”

“Iya, Din….dia biasa main futsal sama gue dan anaknya dosen gue juga.”

Resti menatap Radit.

“Kenapa Res? Lo kayaknya gak suka banget sama Pria.”

Resti terdiam dan hanya menatap Radit. Radit menggelengkan kepalanya dan menyetir mobilnya.

Malamnya Resti duduk di teras rumahnya terlihat sosok Pria datang ke rumahnya.

“Ngapain tuh orang….”

“Hai..Res.”

“Ngapain lo ke sini? Sorry gue sibuk.”

Radit datang memecahkan suasana.

“Hai man, udah lama nunggunya?”

“Gak kok baru aja.”

“Jadi..lo mau pergi ma kak Radit?”

“Iyah…kita mau main futsal?”

“Kenapa lo mau ikut, Dek? Gue tadi sms Andin, bentar lagi juga dateng.”

“Hah??”

“Udah sono ganti baju dulu. Sekalian kita makan di luar aja, soalnya mama gak masak, kalo lo ga ikut gak makan malam loh”

Resti merengut dan langsung masuk ke dalam dan ganti baju.

Di tempat futsal,

“Kita Cuma nontonin gini doing?”

“Iyah, soalnya kata kakak lo tujuannya mau makan malam aja kok.”

“Bored banget Ndin.”

“Hahahha sabar kali, gue bawa novel ni. Baru dua hari yang lalu gue baca.”

“Em…gue baca di rumah aja deh. Hhehhehhe gue nulis dairy aja ya.”

“Yee..gue juga belom selese kok bacanya. Gue selesein dulu dah bacanya.”

Andin asyik membaca novelnya dan Resti membuka tasnya lalu menulis dairinya.

11Maret

Dear dairy,

Gue salah gak ya jutekin Pria….

Bukan saatnya gue untuk mendekati orang lain….

Karma hati gue udah kekeh untuk Galng

Gue yakin gue suka sama dia bukan cinta…tapi krna dia Cuma mirip

Galang……ini Cuma mengagumi aja….ga lebih.

Dia memang keren sama kerennya kayak Galang..

Tapi apakah sifatnya sama ya??? Ahhh…mikir apa si gue…..

Cuma Galang…Pria ga boleh masuk di otak gue………makin gue suka ma dia…

Gue pasti bakal tambah jutek sama dia….biariin dah…..

SWTTTTTT…………………………….

“Lo berdua..ayo ikutan main.”

“Hah…gue ma Andin kan cewek msog lo ajak main futsal?”

“Di sini tempat main futsal bukan perpustakaan. Lo nyadar gak berdua focus sama buku, yang satu nulis dan yang satu baca. Mending join aja.”

“Crewet lo, Pria.”

“Ayo, Ndin lo mau kan ikut? Resti tinggalin aja kalau gak mau,” ajak Radit.

“Ye..Reseh deh, Kak.”

Kemudian Resti bermain futsal dengan lancarnya. Andin juga ikut-ikutan tertawa riang. Resti menggoalkan bola.

“Yeaahh…..goal…..”

Resti teriak kegirangan, lalu memeluk Pria.

“Emmmmmmm.”

Resti malu kemudian terus main bola bersama yang lain.

Saat pulang, Resti terburu-buru sampai lupa dairinya tertinggal.

“Ayo, Kak gue laper.”

“Iya-iya lo ke mobil duluan ni kuncinya gue pamitan ma yang lainnya dulu.”

Resti dan Andin buru-buru ke mobil.

Di dalam tempat futsal, Pria menemukan diari kupu-kupu.

“Kayaknya gue kenal diary ini. Gue bawa dulu aja kali ya. Em…punya Resti.”

“Woii.. Pria cepet ke mobil ya, ade gue udah bawel,” teriak Radit.

Pria memasukan diari itu ke tasnya dan buru-buru ke mobil.

Kemudian mereka makan di suatu tempat makan pinggir jalan. Terlihat Resti lahap memakan makanannya.

“Lo laper banget yah?”

“Iya Kak, capek nendang-nendang bola.”

Radit menggelengkan kepalanya, Pria tersenyum melihat Resti.

“Ngapain si lo liatin gue.”

“Gak apa-apa, lucu aja lo.”

“Emm…ah tersera. Liat dah lo makannya lama banget kayak siput lu.”

“Em…dari pada cepet-cepet nanti keselek lo. Kalo gue siput, lu kupu-kupu mata lo indah banget.”

“Ekhheheehhk.”

Restipun tersedak.

“Duh pélan-pelan makannya, Res. Nih..minum dulu.”

Andin memberikan minum kepada Resti.

“Thanks..ya, Ndin.”

“Baru gue bilangin kan.”

“Diem ah…Kak gue ke mobil dulu.”

Resti menggandeng tangan Andin yang keadaannya saat itu Andin belum selesai menghabiskan makanannya.

Resti duduk di mobil bagian belakang dan menangis.

“Lo..kenapa, Res?”

“Gue benci sama Pria. Dia selalu ngungkit mata gue.”

Resti memeluk Andin.

“Dia muji mata lo kok, Res.”

“Tapi ini matanya Galang. Dan itu yang buat gue sedih.”

“Sabar ya, Res…Pria kan gak maksud nyinggung. Dia juga gak tahu masa lalu lu. Eh..tuh kak Radit datang, baiknya lu tutupin muka lu pake bantal ni…lo pura-pura tidur biar ga ketawan nangis.”

Resti pun menutup mukanya dengan bantal dan memejamkan matanya sambil tidur di paha Andin.

Radit masuk ke dalam mobil bersama Pria.

“Resti tidur, Ndin?”

“Iyah..mungkin capek dia tadikan semangat main bola.”

Andin tersenyum, Pria membuka jaketnya dan menutupi badan Resti dengan jaketnya.

Saat sampai rumah.

“Res..bangun udah nyampe,” kata Andin membisikan Resti dan membuka bantalnya.

“Udah gak usah di bangunin biar gue yang angkat ke kamar…lo turun aja dulu, gue masukin mobil.”

“Biar gue aja, Dit.”

“Ye…dia tidur beneran,” kata Andin sambil garuk-garuk kepala.

Pria mengangkat Resti dan menggendongnya tanpa sengaja kepala Resti terbentur pintu mobil dan terbangun.

“Eh…lu ngapain? Turunin gue, Ya,” kata Resti sambil meronta-ronta.

Resti langsung masuk ke dalam rumah.

Besok nya Resti masuk ke dalam mobil bersama Andin.

“Em…..jaket sapa ni?”

“Oh itu jaketnya si Pria…tolong lo kasih dia ya, Dek?”

“Hah? Lo aja, Ndin yang kasih ya?”

“Kok gue, semalem ni jaket yang pake juga elo, buat selimut.”

Resti memasang muka merengut.

“Nih jaket lo.”

Kata Resti kemudian pergi, tetapi tanganya ditarik Pria.

“Apaaaa….sii ih…”

Ada sesuatu yang pengen gue omongin.”

“Ya udah cepet apa? Di sini juga bisa kan.”

“Em..tapi gue mau ngomongnya sambil makan bakso.”

“Ih….main-main lo, udah ah gue harus nyelesein catetan gue.”

“Ya udah…butterlylovly.”

“HEH…”

“Dairy lu ada di gue..”

“Eh..balikin kok bisa sih? Mana?”

“Temeni gue makan bakso dulu.”

Pria menggandeng Resti ke kantin.

“Mana dairy gue balikin!”

“Em…ada syaratnya tapi.”

“Apa?”

“Pertama tiap hari lo mesti gue anter jemput.”

“Ahhhhh..gak bisa.”

“Uh…ya udah gue kemaren baru baca puisi dari Galang itu belum sampe dalam. Kalau lo nolak, gue baca loh.”

“Iyah..tapi lo jangan baca isinya.”

“Ok..ada lagi syarat kedua, lo harus ikut prom night sama gw.”

“Mampus…ogah-ogah.”

“Ya udah gak gue balikin.”

“Eh..iya dah, maksa banget lo.”

“Deal ya.”

Resti bersalaman dengan Pria sambil saling memberikan senyum dan memakan baksonya. Tifani nyemperin mereka.

“Eh..anak baru kok lo jadi nyolot. Beraninya ya, deketin cowok gue,” kata Tifani sambil menggembarak meja.

“Eh..apa-apan si lo, malu tau di lihat orang,” kata Pria.

“Em…gue mending pergi aja deh, mana dairy gue?” tanya Resti.

“Gue ksih habis prom ya,” bisik Pria.

“EM..tapi jangan lo baca ya?”

“Ok..”

Resti dan Pria pergi meninggalkan Tifani.

“Eh…kalian mau ke mana?”

Teriak Tifani sambil mengejar Pria.

Resti ke kelas sambil memasang raut wajah bimbang.

“Udah dikasih jaketnya?”

“Udah…huuf.”

Resti menghela nafas dan mejatuhkan wajahnya di meja.

“Lo kenapa?”

“Pria bikin ulah lagi, kali ini dia ngambil dairi gue.”

“Hah? Kok bisa?”

“Iya dia nemuin di tempat futsal. Hah…yang lebih nyebelin dia kasih syarat ke gue.”

“Apa tuh? Gak macem-macem kan?”

Resti menceritakan semuannya ke Andin.

Tiap hari Resti di antar dan dijemput Pria. Setiap pulang Pria pun selalu mengobrol dengan mama Resti, dan Radit. Resti rasanya ingin marah, tapi dia masih punya perjanjian dengan Radit, rasanya ingin cepet prom night di batinnya Resti.

“Res, Pria itu baik ya? Dia cowok kamu?”

“Bukan, Ma.”

“Kok tiap hari anter kamu sih?”

“Emang tuh reseh dia….besok prom, Ma, aku mau beli dress, Ma……temenin.”

Tiba-tiba Radit datang memotong pembicaraan.

“Heh, dicariin tuh sama Pria.”

“Ngapain si dia, bilang gue udah tidur.”

“Oh..mending sama Pria aja beli dressnya, Res,” kata mama buru-buru mau minta tolong sama Pria.

“Aduh…Mama….”

Mama jalan menuju ruang tamu dari belakang Resti mengejar Mamanya.

“Eh…Pria mau jalan ya sama Resti? Sekalian temenin Resti cari dress ya?”

“Ih..mama, apaan si?

“Boleh kok, Tan,” kata Pria tersenyum.

Resti berbelanja di salah satu mall. Resti sengaja buat bored Pria dengan mencari dress di berbagai merek yang itu-itu saja. Pria tidak peduli dengan jurus Resti itu. Akhirnya Pria memilihkan dress putih bercorak kupu-kupu dengan sayapnya berwana-warni.

“Coba lo pake ini deh, pasti cantik.”

Resti merasa pilihan Pria memang bagus, dan simple cocok dengan dirinya, serta yang terpenting ada kupu-kupu nya. Resti senyum-senyum di depan kaca sambil memakai dress yang dia pakai.

Resti melihat took accessories dan melihat kalung kupu-kupu.

“Yah..duit gue gak cukup.”

“Kenapa?”

“Gak…gak apa-apa, traktir gue makan ya?”

“Iya…”

Resti dan Pria makan di salah satu restaurant di mall.

“Gue boleh tanya, gak?”

“Boleh,” jawab Resti.

“Em….Galang tuh siapa sih? Terus kenapa tiap kali gue singgung mata lo, lo marah.”

“Hhhhhh….ekkhhhhhheek.”

Resti tersedak, dan langsung minum, kemudian Resti menceritakan semuanya, sambil air matanya menetes. Pria mengelap air matanya Resti. Selesai makan mereka langsung ke mobil.

“Eh..bentar dah, kayaknya nyokap gue nitip sesuatu bentar ya, lu tunggu di mobil, gue ke dalam bentar.”

“Jangan lama-lama!”

Resti menunggu di mobil sambil memandangi foto Pria di dalam mobil.

“Em…lama ya sorry ya?”

“Gak kok? Em ketemu pesenannya?”

“Em iyahh..”

Besok pagi-paginya Resti buru-buru naik taksi dan menuju ke makam Galang, tanpa pamit orang tuanya. Resti meninggalkan handphonenya di kamar.

“Pokoknya hari ini gue mau kusyuk sama Galang.”

Resti menaburkan bunga di makam galang sambil meneteskan air mata.

Sementara orang rumah keteteran mencari Resti, Andin dan Pria ikut dilibatkan juga.

“Ke mana si Resti pagi-pagi buta gini udah pergi, bikin khwatir aja,” kata Papa.

Mama juga khawatir dengan Resti yang tak pamit.

“Papa, sama Mama tenang aja, Radit bakal cari Resti.”

“Kayaknya dia ke makamnya Galang deh,” kata Andin.

“Oh…ayo kita susul,” kata Pria yang juga khwatir.

Resti mencari taksi dan menuju taman kota untuk mencari bakpau. Sampai di taman kota Resti duduk dan termenung sambil meneteskan air matanya mengingat Galang.

“Loh kok Restinya gak ada?”

“Tapi..kayaknya dia abis dari sini, bunganya kelihatan masi seger,” kata Pria.

“Em…ke mana lagi sit uh anak bikin pusing aja.,” kata Radit menggarukan kepalanya.

“Em…mending kita doain Galang dulu, udah sampe kuburan,” kata Pria.

Selesai berdoa mereka berpikir lagi.

“Em ada yang tahu di mana Resti kalau lagi merenung?”

Tanya Pria.

“Taman Kota,” sahut Radit dan Andin berbarengan.

“Resti,” teriak Andin lalu memeluk Resti.

“Andin , kakak, Pria, kok kalian?”

“Res..kita khwatir banget, apa lagi orang tua lo,Kak Radit..jangan sedih..sendirian, terus kabur, lo masih banyak yang care sama lo.”

“Iyah…Ndin maafin gue.”

“Jangan minta maaf sama gue, sama Kak Radit and Bonyok lo ya?”

Resti meneteskan air matanya tiada henti.

Malamnya Resti memakai dress berangkat ke prom bersama Pria. Mereka berdansa di prom night.

“Kamu cantik banget kayak kupu-kupu.”

“Emmm…jangan ngerayu gue, gue minta dairy gw!”

Kan acara belom selesai.”

“Pokoknya dairy gue mana?”

“Iyah ntar aja.”

Tifani dari tadi memperhatikan Resti dan Pria, dia begitu kesal. Tifani berjalan ke arah mereka dan menyenggol Resti, tapi Resti ditarik Pria.

“Eh lo denger ya, gue gak ada sedikit rasa sama lo, Fan. Harusnya lo ngerti dong!”

“Oh gitu, semenjak ada anak baru ini lo berubah.”

“Sebenarnya udah lama gue mau bilang kalau gue ilfeel sama lo, dan gue mohon sama lo, jangan pernah harapin rasa ke gue lagi,” kata Pria menggandeng Resti ke mobil.

Di mobil Resti berpandang-pandangan dengan Pria. Hampir Pria mencium Resti, tetapi Resti langsung menolak.

“Em…Sorry, ini buku diary lo, ada di tas plastik ini, gak pernah sedikitpun gue tahu isinya, gue Cuma baca puisi yang keselip itu aja.”

Resti buru-buru memasukan dairynya ke dalam tas.

“Em baiknya kita pulang aj yah.”

“Tunggu ada yang mau gue sampein, Res gue sayang sama lo…lo mau jadi cewek gue gak?”

“Sorry buat sekarang gue belum bisa buka hati gue, walau di dalam hati gue…gu…e gue gak ngerti ini sayang apa bukan,”

“Em…ya udah gue akan tunggu loh.”

Resti sampai rumah membuka plastik diary tadi. Mama Resti datang.

“Gimana prom nigtnya?”

“Emmm..ya gitu Ma….”

Resti menjatuhkan sesuatu dari plastiknya.

“Apa ini, kalung? Dari siapa?” tanya mama.

“Pria..ini kan..ya ampun baik banget si dia.”

“Ini dari Pria?? Bagusnya , Pria sama Galang tuh sama baiknya, Res. Kenapa kamu gak coba buka hati kamu sih?”

Resti memeluk mamanya.

“Em…Hati Resti udah penuh buat Galang, Ma.”

“Resti, baiknya kamu jangan begini, Galang sedih loh di sana. Jalan kamu masih panjang dan Galang berharap kamu tidak terlalu berlarut-larut sedih.”

“Tapi, Ma?”

“Inget, Galang akan bahagia bila kamu juga bahagia.”

Besok paginya, saat sarapan.

“Loh Kak Radit mana, Ma? Papa juga, udah pada berangkat?”

“Iyah….tadi, kamu agak kesiangan sih? Terus itu Pria ninggi di depan.”

“PRIA?”

Resti terburu-buru berlari keluar dan memeluk Pria.

“Makasih ya kalungnya, aku sayang kamu, aku mau jadi pacar kamu,” kata Resti.

Pria hanya terdiam dan tersenyum sambil memeluk Resti.

30 Juli

Yah ini mungkin di surga Galang tersenyum…..

Karena gue bisa bahagia sama pRia…..

Walau pada nyatanya di hati gue belum bisa lupain Galang….

Tapi mank galang harus terkenang gak boleh ilang……

Tapi gua syang sama pria kok….dan di hati gue juga ada galang….

Pokoknya dua pria yang sllu ada di hati gue saampai kapan pun