Suasana sunyi menyelimuti pagi yng indah. Terdengar suara burung berkicau menemani mimpi yang terjaga. Selimutpun masih terpasang di badan. Terdengar suara ketukan dari jendela kamarku. Aku membuka mataku dan tersenyum.
“Sarapan pagi, bubur ayam dan susu hangat,” kata Niky tersenyum di balik jendela.
Kak Niky, dia pacarku dan selalu begitu tiap pagi. Senyumnya mengawali pagiku. Aku membuka jendela kamarku, dan kebetulan aku mengekost. Aku menyuruhnya masuk ke dalam kamar kostku yang seadanya.
“Cuci muka dulu, baru makan. Jangan lupa sikat gigi,” kata Kak Niky.
“Beres,” kataku tersenyum.
Pacar yang perhatian, itulah Kak Niky. Perhatian, smart, ganteng dan perfect.
“Vit…kok lama di kamar mandinya? Keburu dingin loh,” kata Kak Niky.
“Iya…Vita bentar lagi keluar kok,” ucapku.
Aku keluar dari kamar mandi dan mulai menyantap bubur ayam. Bubur ayam yang lezat dan susu putih yang enak kesukaanku.
“Em…ada yang mau aku omongin,” kata Kak Niky menatap mataku dengan penuh keseriusan.
“Apa tuh Kak? Jangan bilang Kakak minta putus?”
“Em…aku dapat beasiswa di
Aku tersedak dan kaget mendengar ucapan Kak Niky.
Kita terdiam beberapa saat. Aku meminum segelas air dan aku bingung harus berkata apa, hatiku kaget tidak karuan. Kemudian Kak Niky mengusap kepalaku.
“Tenang aja, ini bukan akhir
Memang bukan akhir, tapi bakal kehilangan perhataiannya itulah yang buat aku sedih.
Lusa aku menuju bandara mengantar kepergiannya, bersama dua sahabatku Eva dan Karin, selain itu ada Wendi yang juga sahabatku sekaligus adiknya Kak Niky. Air mata tak kuasa menetes di pipiku. Eva dan Karin terus merangkul dan mengusap bahuku.
Kak Niky menggengam tanganku.
“Udah gak usah nangis. Kamu manis kalau tersenyum. Kita gak berakhir di sini kok,” kata Kak Niky mengusap air mataku.
Aku memeluk Kak Niky dan tak kuasa untukku lepaskan.
“Kak Niky jangan nakal di
Kak Niky mengusap kepalaku dan mencium keningku.
“Em...iyah aku janji. Ada Wendi, yang bakal jagain kamu selama aku ada di Bali. Love you, aku pergi dulu,” katanya tersenyum.
Aku melepaskan pelukannya dan mulai melihat sosok Kak Niky pergi.
Sahabat-sahabatku menamani kesedihanku di kostan. Mereka berusaha menghiburku, namun aku tak bisa tersenyum. Tiga jam berlalu, ponsel Wendi berdering dan memecah kesunyian. Wendi mengankat teleponnya.
“Nih..Vit, Kakak gue,” kata Wendi.
“Bokis lo, kenapa dia gak ngehubungin ke ponsel gue aja,” kataku sinis.
Kemudian Wendi meloadspeaker ponselnya. Terdengar suara Kak Niky, akupun tersenyum dan merebut ponselnya.
“Yah….akhirnya bisa ketawa juga,” kata Eva.
“Siapa?,” tanya Karen.
“Telmi dehh..ya itu si Vita,” kata Eva.
Karen terkenal dengan telminya, dan suka di panggil Karen Kermi, dia cantik dan modis. Kepanjangan Kermi adalah keren-keren telmi. Kalau Eva, dia cantik dan banyak cowok yang ngantre tapi gak ada satupun dia terima. Dia sering di panggil Eva Melati, kepanjanganya meluluhkan hati setiap lelaki. Mereka sahabat yang baik. Sedangkan Wendi dia laki-laki baik. Dia dewasa seperti kak Niky, aku kenal Kak Niky juga karena Wendi. Dia juga care sama seperti kakaknya. Sepanjang Kak Niky pergi ke Bali, merekalah yang melengkapi hidupku.
Hunting bareng, pokoknya buat seru-seruan deh. Aku mendapat teguran dari wali kelas karena nilai Bahasa Inggrisku jeblok. Padahal itu materi Ujian Nasional.
“Kenapa lo jelek banget mukanya? Pasti belum di telepon,” tanya Eva.
“Em..bukan Kak Niky, biasa Bahasa Inggris,” jawabku menghela nafas.
“Bahasa Inggriskan juga biasanya lo minta ajarin pacar lo,” kata Karen.
“Uh….Karen Keren tapi Kermi, Kak Nikykan ada di
“Oh iya Va, gue lupa. Em…ada Wendi tuh,” kata Karen menujuk Wendi.
“Ahhh…….lo pinter juga si… gue bakal minta diajar sama Wendi. Dia kan sama kayak Kakaknya,” kataku berlari menuju ke arah Wendi.
Suasana kostan yang sepi dan terlihat ramai ketika empat sahabat itu mengisi kesunyian di kost pojok yang merupakan tempat tinggalku. Aku belajar Bahasa Inggris bersama. Tetapi. Hanya aku dan Wendi yang serius belajar. Eva sibuk dengan BBM nya, sedangkan Karen sibuk membaca komik. Tiba-tiba ponselku berdering, telepon dari Kak Niky ternyata. Langsung, buru-buru ku angkat dan meninggalkan pembelajaran itu. Wendi agak kesal, karena terlihat terganggu.
“Cieee…teramg lagi ni….,” kata Eva.
Aku tersenyum dan rasa malas belajarpun hidup lagi.
“Perasaan, dari tadi emang terang deh..Va, gak mendung,” kata Karen.
“Kermi….masud gue yang terang tuh Vita,” kata Eva.
“Kenapa si lo bisa sayang banget sama kakak gua,” tanya Wendi tiba-tiba.
“Humm….abstraklah, cinta itu abstrak gak bisa digambarin,” kataku sambil tersenyum.
“Sepertinya lo bahagia sama Kak Niky, emm…padahal gue duluan yang kenal lo,” ucap Wendi pelan.
Eva memperhatikan Wendi, sedangkan aku tak jelas mendengar ucapan Wendi.
“Em…mulai lagi yuk..belajarnya,” kataku.
“Gue mau pulang dulu ya, ada latihan basket. Besok gua ajarin lagi,” kata Wendi.
Wendi memang jago basket, dia sangat misterius dan susah ditebak, sampai sekarang masih gak mau pacaran. Wendi membuka pintu lalu pergi, aku agak sedikit kecewa. Padahal ibarat ponselku, aku sudah di carge dan siap dipakai lagi buat belajar pastinya.
“Gue juga balik dulu ya? Dah sayang muah,” kata Eva yang iku-ikutan kabur.
Karen masih asyik baca komik dan menemaniku sampai malam di kostanku.
Hampir
Jam menunjukkan waktu pulang sekolah dan hari ini aku menuju rumah Wendi untuk belajar. Karen dan Eva tidak bisa ikut saat itu. Aku duduk di sofa, hanya ada aku dan Wendi di rumah itu. Orang tua mereka ada di luar negeri, makanya mereka begitu mandiri.
Suasana begitu hening aku dan Wendi belajar. Wendi kalau aku lihat dia sama kayak Kak Niky. Baik, care, perhatian, dewasa, bedanya kalau Kak Niky ramah sama semua orang sedangkan Wendi begitu dingin dengan orang-orang yang dia tak kenal. Aku tersenyum menatapnya.
“Kenapa Vit?
“Em…gak kok. Lo ganteng, kalau liat lo gua jadi makin kangen sama Kak Niky,” ucapku.
Ponselku berdering ku pikir Kak Niky ternyata ayahku di Jogja. Setelah aku selesai teleponan ternyata ada sms masuk, Kak Niky.
Ternyata dia satu bulan ini mau focus belajar buat UAS, aku sedikit kecewa. Karena memang seperti itulah dia, kalau ada yang berkaitan dengan test akademik, dia selalu focus belajar, dan menghentikan aktivitas denganku. Tetapi, setelah itu dia biasanya memberi kejutan. Itulah Kak Niky, sedikit kecewa sih, tapi gak apalah demi masa depannya.
Rasa malas pun menghantuiku, aku tidak konsentrasi dengan apa yang di ajarkan Wendi.
“Lo laper ya? Makannya gak focus,” tanya Wendi.
“Eh…emang lo ada makanan apa? Tau aja gua laper,” ucapku.
“Gak ada apa-apa sih, ya udah kita masak aja yuk…,” ucap Wendi menggandeng tanganku. Kami menuju dapur dan memasak spaghetti. Malam itu aku menginap di rumah Wendi.
Satu minggu sudah aku kesepian tanpa telepon dari Kak Niky. Tetapi, kesepian itu tidak begitu kerasa ketika Wendi bersamaku. Aku terhibur olehnya, apakah ini selingkuh, tetapi bagiku tidak, hanya biasa saja. Aku terkadang menginap di rumahnya,dan belajar, menghaiskan waktu bersamanya membantuku melepaskan rindu itu.
Hari Minggu aku terbangun oleh suara bel rumah Wendi. Aku membukakan pintu, terlihat Eva di balik pintu dan aku tersenyum.
“Lo nginep?,” tanyanya menatapku sinis.
“Iya, udah sering kok. Kenapa, Say…,” tanyaku.
“Lo masih setiakan sama Kak Niky?”
“Lo ngomong apa sih? Lo mau masuk gak!”
Suara langkah Wendi menghampiri kami.
“Oh..lo Va,” ucap Wendi.
Eva menatap Wendi, dan pulang tanpa sepatah katapun.
“Lo berantem?,” tanya Wendi.
“Emm…gue pulang ya? Em…thanks ya,” kataku.
Aku mengambil tas ranselku dan pergi. Biasanya Wendi yang mengantarku pulang, tapi bad mood banget hatiku. Maksud perkataan Eva itu menusuk banget, dia nyindir aku.
Akibat pertengkaran tanpa sengaja itu, aku jadi tidak pernah mengobrol dengan Eva.
“Kalian berdua lagi sakit gigi ya? Kok gak pernah ngobrol,” tanya Karen.
Eva dan aku saling buang muka, dan aku pun pergi mencari Wendi.
Dua minggu sudah persahabatan kami retak. Aku sibuk dengan Wendi, Karen dan Eva selalu berdua. Malam minggu aku menginap di rumah Wendi. Aku tertidur di bahunya karena kelelahan, jam dua belas ada suara langkah kaki dan menyalakan lampu. Aku membuka mataku dan begitu kaget melihat sosok yang sudah lama ku rindukan. Tetapi, dia menatapku dengan rasa cemburu melihatku bersama Wendi. Dia membawa sekotak cake yang masih terbungkus dan menjatuhkannya.
Dia Kak Niky, dan berlari ke halaman belakang. Aku mengejarnya dan memeluknya dari belakang. Dia berbalik badan dan tersenyum sambil memelukku.
“Gak seharusnya aku cemburu dengan adikku sendiri. Aku juga salah, lost contact sama kamu,” kata Kak Niky.
“Uh…gak salah kok, cemburu itu tanda sayang kok,” ucapku, aku jadi teringat Eva, mungkin dia cemburu.
Kak Niky berlari mengambil bungkusan, dan Wendi terbangun.
“Kak?,” kata Wendi.
“Bukain pintu geh….gua ngadain surprise party buat Vita. Di luar ada Karen sama Eva,” kata Kak Niky tersenyum.
“Oh..iya dia ulang tahun ya, saking sibuk belajar mungkin dia jadi lupa,” kata Wendi.
Eva, Karen, Wendi dan Niky pergi ke halaman belakang.
“Happy birthday Vita…Happy birthday Vita…..,” kata mereka.
“Oh Gee…ini ultah gua ya? Gua lupa,” kataku.
Kak Niky membawa cake dengan lilin di atasnya.
“Tiup lilinnya dan jangan lupa make a wish,” kata Kak Niky.
Aku menutup mataku dan membuat suatu permohonan. Supaya nilai UAN ku memuaskan, sehingga aku dapat beasiswa di satu tempat bersama Kak Niky, lalu aku meniup lilinnya.
Kemudian aku memotong kue pertama dan memberikannya pada Eva.
“Maafin gue ya? Lo salah sangka, gue udah anggap Wendi kayak saudara gue kok, jadi lo gak usah cemas,” bisikku.
“Emmm…iya maafin gue juga ya,” kata Eva memelukku.
Aku tersenyum memeluk Eva. Aku senang dia hadir di sini, akhirnya aku mengerti kalau Eva Melati itu menunggu cinta dari Wendi. Satu-satunya laki-laki yang sulit ditaklukan.
Wendi menghampiriku dan memelukku.
“Selamat ulang tahun ya…Kak Vita,” katanya.
“What? Lo panggil gua Kak?,” kataku.
“Em…gak apa-apa
Karen memberikanku satu kertas.
“Ini gift buat lo,” kata Karen tersenyum.
Aku membaca kertas itu, vocher menemani Vita di kostan satu minggu.
“Ye..kermi,hahhaha……thanks ya, awas lo kalo boong,” kataku.
Ini saatnya aku berdua bersama Kak Niky. Dia memberikanku satu tiket pesawat ke
Akhirnya pengorbananku belajar, tidak sia-sia. Aku berhasil satu kuliah dengan Kak Niky. Senangnya hatiku, bisa satu
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar